Jumat, 01 Desember 2017

kuliah umum pengerasan jalan


MANUAL DESAIN
PERKERASAN JALAN
No. 02/M/BM/2017



Cakupan Manual Desain Perkerasan Jalan (Revisi 2017)
1. Umum
Manual Desain Perkerasan (2013) terdiri atas dua bagian yaitu, Bagian I yang membahas
desain perkerasan jalan baru dan Bagian II yang membahas desain rehabilitasi dan
rekonstruksi perkerasan. Setelah digunakan sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 2013
berbagai masukan telah diperoleh dari pengguna manual baik yang secara langsung maupun
yang diperoleh dari pengamatan terhadap praktek implementasi manual dalam perencanaan.
Berdasarkan masukan tersebut dipandang perlu untuk melakukan beberapa revisi, baik dari
segi kandungan maupun struktur penyajian untuk memperjelas, mengoreksi dan
menambahkan informasi yang diperlukan. Garis besar dari revisi tersebut dijelaskan pada
uraian berikut.
2. Struktur dan kandungan revisi Bagian I
Secara umum struktur penyajian manual yang dibuat mengikuti urut-urutan proses desain
mulai dari penetapan umur rencana sampai dengan katalog dan proses desain tetap
dipertahankan. Pada Bagian I, setelah penetapan umur rencana, berturut-turut dibahas pula
masalah pemilihan struktur perkerasan, pengumpulan data dan analisis lalu lintas,
pertimbangan drainase, desain fondasi, desain perkerasan, pertimbangan aspek pelaksanaan
yang mempengaruhi desain dan diakhiri dengan penyajian urutan prosedur desain yang
merupakan ringkasan dari proses desain. Beberapa perubahan dilakukan terhadap struktur
penyajian Bagian I. Perubahan tersebut dilengkapi dengan pendalaman dan penambahan
kandungan yang dianggap perlu seperti diuraikan berikut ini.

1) Bab desain perkerasan. Uraian mengenai desain mekanistik empiris yang semula
merupakan bagian dari manual yang ditempatkan sebagai lampiran, pada revisi ini
dipindahkan menjadi bagian dari bab yang secara khusus membahas desain struktur
perkerasan. Namun demikian, apabila sebelumnya uraian yang diberikan lebih
menekankan kepada prosedur desain menggunakan perangkat lunak tertentu, pada
edisi revisi ini metode desain mekanistik empiris diuraikan secara lebih rinci dengan
penekanan kepada konsep dan dilengkapi dengan contoh yang menunjukkan
bagaimana analisis dilakukan hingga mendapatkan ketebalan struktur rencana.
Perubahan tersebut dilakukan dengan tujuan agar pengguna manual, yang
sebelumnya hanya dapat melihat ketebalan desain yang “sudah jadi” dalam bentuk
katalog, dapat lebih mengapresiasi metode yang digunakan dan selanjutnya berupaya
untuk lebih mendalami metode tersebut.

2) Modulus bahan, yang sebelumnya merupakan bab tersendiri, juga digabungkan dalam
bab desain perkerasan sehingga pembahasan mengenai metode dan prosedur desain
perkerasan dapat secara utuh disampaikan sebagai satu kesatuan.

3) Bab mengenai Traffic Multiplier dihilangkan karena penjelasan mengenai hal ini telah
menjadi bagian dari uraian mengenai konsep desain mekanistik.

4) Bab mengenai Zona Iklim dipindahkan menjadi bagian dari Lampiran karena informasi
yang diberikan lebih merupakan rujukan penggunaan Bagan Desain – 1 yang
menyajikan estimasi modulus tanah dasar berdasarkan zona iklim khususnya yang
terkait dengan curah hujan.

5) Beberapa perubahan dan penambahan informasi diberikan pada Bab mengenai lalu
lintas. Faktor pertumbuhan lalu lintas dikelompokan lebih rinci berdasarkan wilayah.
Namun karena keterbatasan data, pengelompokan nilai faktor pertumbuhan lalu lintas
tersebut baru dapat dilakukan pada pulau Jawa, Sumetera, Kalimantan dan nilai
pertumbuhan rata-rata Indonesia.

6) Selanjutnya, pertumbuhan lalu lintas rencana dapat dihitung berdasarkan tiga skenario
yaitu, kondisi laju pertumbuhan konstan, kondisi laju pertumbuhan selama umur
rencana berubah, dan kondisi yang perbandingan volume terhadap kapasitas jalan
tercapai sebelum umur rencana perkerasan tercapai. Formula faktor pertumbuhan
kumulatif (Cumulative Growth Factor) yang dapat digunakan dan contoh perhitungan
untuk masing-masing kondisi diberikan.

7) Sub bab lalu lintas yang menguraikan Faktor Distribusi Lajur dan Kapasitas Lajur pada
manual (2013) dilengkapi dengan menambahkan uraian mengenai Faktor Distribusi
Arah. Sedangkan masalah kapasitas lajur dilengkapi dengan melampirkan table-tabel
berbagai parameter yang diperlukan untuk menghitung kapasitas lajur yang dikutip
dari MKJI dan contoh perhitungan.

8) Tabel Faktor Ekuivalen Beban (Vehicle Damage Factor, VDF) berdasarkan beban riel
masih dipertahankan. Nilai VDF pada tabel tersebut diperoleh dari survei jembatan
timbang di Pantura. Untuk menggunakan nilai-nilai tersebut, selain mencatat jenis
kendaraan, survei lalu lintas harus mencatat jenis muatan.

9) Sebagai alternatif, satu tabel yang memuat nilai karakteristik VDF jenis-jenis
kendaraan niaga yang diperoleh dari data studi WIM yang dilakukan Ditjen Bina Marga
pada tahun 2011/2012. Studi tersebut dilakukan pada beberapa lokasi di Sumatera,
Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Dengan demikian, nilai karakteritik VDF tersebut
dikelompokkan berdasarkan wilayah yang bersangkutan. Nilai VDF untuk wilayah di
luar keempat pulau tersebut diambil dari data WIM dari lokasi dengan karakteristik
distribusi kendaraan niaga menyerupai wilayah tersebut. Dengan menggunakan
karakterisitk VDF rata-rata tiap-tiap jenis kendaraan niaga tidak diperlukan survei jenis
muatan. Contoh penggunaan nilai karakteristik VDF (kondisi beban nyata dan kondisi
beban normal) diberikan.

10) Karena cakupan uraian adalah pada drainase perkerasan dengan drainase bawah permukaan hanya merupakan salah satu bagiannya maka Bab berjudul Drainase
Bawah Permukaan diubah menjadi Drainase Perkerasan. Tabel mengenai tinggi
minimum tanah dasar diatas muka air tanah dan muka air banjir dari bab mengenai
desain fondasi (2013: Bab 9) dipindahkan ke bab drainase perkerasan. Ketentuan
mengenai ketinggian tanah dasar di atas muka air tanah untuk jalan raya diperinci
dengan menambahkan ketentuan-ketentuan untuk tanah lunak jenuh tanpa lapis
drainase, tanah lunak jenuh dengan lapis drainase dan untuk tanah dasar normal.

11) Uraian mengenai desain fondasi jalan yang pada edisi 2013 dibahas dalam dua bab,
yaitu: bab Desain Fondasi dan bab Tanah Dasar Lunak, pada edisi revisi 2017
digabungkan dalam satu bab: Desain Fondasi. Bab ini menguraikan masalah
pengujian daya dukung tanah dasar, ketentuan mengenai pengujian DCP untuk
penilaian daya dukung tanah, dan indikasi daya dukung berdasarkan karakteristik
tanah. Faktor penyesuaian nilai modulus tanah dasar yang diperoleh dari pengujian
DCP terhadap kondisi musim saat pengujian sesuai dengan versi awal. Akan tetapi,
faktor penyesuaian nilai modulus yang diperoleh dari pengujian lendutan ditiadakan.
Sebagai gantinya, digunakan faktor penyesuaian nilai lendutan terhadap kondisi
musim, yang ditempatkan pada Bagian II pada bab mengenai pengujian lendutan
permukaan perkerasan eksisting. Selanjutnya, pembahasan mengenai desain fondasi
perkerasan lentur dan perkerasan kaku dibahas dalam sub bab yang berbeda.

12) Pada versi 2013, nilai karakteristik CBR ditetapkan berdasarkan asumsi bahwa data
CBR untuk segmen yang seragam terdistribusi secara normal dan nilai karakteristik
ditetapkan untuk probabilitas 90%. Pada edisi revisi 2017, dua metode penentuan CBR karakteristik diuraikan pada bab desain fondasi jalan yaitu penentuan

berdasarkan asumsi distribusi normal dengan 3 level probabilitas dan metode persentil
yang sebelum ini lazim digunakan pendesain perkerasan jalan di Indonesia.
Penggunaan spreadsheet untuk menghitung nilai karakteristik pada persentil tertentu
diuraikan. Contoh perhitungan penggunaan kedua pendekatan tersebut diberikan.

13) Tidak ada perubahan dalam uraian penentuan tinggi minimum permukaan akhir tanah
lunak untuk membatasi terjadinya deformasi plastis di bawah sambungan pelat
perkerasan kaku. Kecuali bahwa sumbu mendatar dan sumbu vertikal pada grafik
yang terkait diubah atas pertimbangan konsistensi penyajian. Contoh desain timbunan
di atas tanah lunak untuk perkerasan kaku diperjelas dalam bab Desain Fondasi.

14) Pengunaan ESA4 dan ESA5 diperjelas pada bab desain perkerasan. Koefisien lapis
campuran beraspal dikembalikan sesuai ketentuan pada PdT-01-2002-B atau metode
AASTHO 1993.

15) Temperatur perkerasan beraspal dapat dinyatakan sebagai temperatur rata-rata
tertimbang tahunan (weighted mean asphalt pavement temperature, WMAPT). Untuk
iklim Indonesia, WMAPT berkisar di antara 380 C (daerah pegunungan) hingga 420 C
(untuk daerah pesisir). Nilai modulus campuran beraspal yang digunakan pada Bagan
Desain ditetapkan berdasarkan asumsi WMAPT 410C sebagai acuan. Koreksi
modulus bahan terhadap temperatur diberikan.

16) Sejumlah perubahan pada Bagan Desain (Bab Desain Fondasi dan Bab Desain
Perkerasan) adalah sebagai berikut:
 Bagan Desain 2 – Desain Fondasi Jalan Minimum, ditambahkan ketentuan
mengenai fondasi untuk perkerasan kaku: 300 mm teratas perbaikan tanah
dasar berbutir halus (klasifikasi A4 – A6) harus berupa stabilisasi semen. Hal
ini adalah untuk mencegah terjadinya “pumping”.
 Bagan Desain 3 – Perkerasan lentur dengan CTB berlaku untuk beban lalu
lintas rencana minimum 10x106 CESAL (dari batasan semula 0,5x106 ESA5).
 Bagan Desain 3 – Perkerasan lentur dengan HRS dipisahkan dari Bagan
Desain 3 (2013) menjadi Bagan Desain 3A. Tebal HRS untuk beban lalu lintas
< 0.4x106 diubah dari 30 mm (HRS WC) + 35 mm (HRS Base) menjadi satu
lapis 50 mm (HRS WC).
 Bagan Desain 3A Desain Perkerasan Lentur Alternatif dan Bagan Desain
Alternatif 3A (2013) Desain Perkerasan Lentur Aspal Dengan Lapis Fondasi
Berbutir – digabung menjadi Bagan Desain 3B (2017), Desain Perkerasan
Lentur Aspal Dengan Lapis Fondasi Berbutir.
 Untuk perkerasan dengan daya dukung subgrade > 6% ditambahkan Bagan
Desain 3C (2017) Penyesuaian Tebal Lapis Fondasi Agregat A Untuk Tanah
Dasar dengan CBR ≥ 7 % yang berlaku sebagai tambahan dari Bagan Desain
3B.
 Bagan Desain 4 – Desain Perkerasan Kaku untuk jalan dengan Lalu lintas
Berat. Tebal pelat beton kurus (LMC) dari 150 mm menjadi 100 mm. Lapis
fondasi aggregat kelas A diganti menjadi lapis drainase yang harus lolos air.
Untuk mencegah pumping, permukaan fondasi (tanah dasar) setebal 150 mm
harus distabilisasi.
 Bagan Desain 5A (2013) – Desain Perkerasan Kaku untuk jalan dengan Lalu
lintas Ringan, tidak ada perubahan kecuali pada nomor tabel yang disesuaikan
menjadi Bagan Desain 4A.


PEMANFAATAN ALUMINA SUMBAWA

PEMISAHAN ALUMINIUM DARI ZEOLIT ALAM SUMBAWA SEBAGAI BAHAN DASAR SINTESIS ɣ-Al2O3




                 Aluminium oksida atau alumina dengan rumus kimia Al2O3 digunakan sangat luas di bidang teknologi dan industri sebagai katalis, adsorben, biomaterial, komposit, dan logam ringan (P.Tartaj et al, 2002). Alumina memiliki beberapa struktur seperti fasa α-, ɣ-, ƞ-, δ-, θ-, κ-, dan χ-, (Digne et al, 2002; Wang et al, 2008). Masing – masing fasa tersebut mempunyai sifat fisis yang berbeda dan diantara struktur transisi tersebut fasa ɣ- Al2O3 merupakan material yang paling luas digunakan sebagai substrat katalis dalam otomotif dan industri petroleum, komposit 1ctahedral untuk pesawat luar angkasa, serta pelapis tahan panas (Thermal wear coatings) (Wang et al, 2008). Hal ini disebabkan karena ɣ- Al2O3 memiliki struktur kubik yang higroskopis dan larut dalam asam, sedangkan α-Al2O3 memiliki struktur 1ctahedral seperti corundum/sapphire yang sangat keras karena memiliki sifat kesetabilan yang sangat tinggi sehingga tidak mudah larut dalam asam (Partington, 1961).

                   Sintesis alumina telah banyak dilaporkan dari berbagai material seperti bauksit, kaolin, abu batu bara (Yan et al, 2016) namun tidak dengan zeolit. Zeolit adalah kelompok mineral yang kandungan utamanya adalah silika dan alumina, sehingga memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan dasar sintesis alumina. Disisi lain, metode untuk sintesis alumina umumnya menggunakan metode basa atau lebih dikenal dengan proses Bayer. Metode basa atau proses Bayer telah digunakan untuk memisahkan alumininium dari bijih Nepheline dan bauksit dengan mengkontrol suhu pelindihan. Namun dalam proses Bayer ini terdapat batasan dimana jumlah kandungan silika dari minerial tidak boleh melebihi 10% (Andreas, 2012). Lain dengan proses bayer, metode asam yang dilanjutkan dengan proses presipitasi dapat memisahkan silika ataupun pengotor lainnya dengan alumina meskipun kandungan silika melebihi 10%, seperti pada zeolit alam yang memiliki kadar silika diatas 50%. Mineral zeolit alam dalam peneltian ini berasal dari pulau Sumbawa.

                       Sebagai daerah yang terkenal dengan kekayaan mineral, Sumbawa memiliki mineral zeolit alam yang telah ditetapkan sebagai sumber aluminium selain bauksit. Kandungan silika dari zeolit alam yang tinggi sekitar 54.6% dan 21.1% alumina, dapat disintesis dengan metode pelindihan dilanjutkan dengan presipitasi. Metode ini dapat dilakukan dalam sekala laboratorium, tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan ekonomis.

Sehingga pada penelitian ini dilakukan pemisahan aluminium dari zeolit alam yang memanfaatkan sumber potensi lokal Sumbawa dengan metode asam dan proses presipitasi sebagai bahan dasar sintesis ɣ- Al2O3.


Selasa, 24 Oktober 2017

MANGAN SUMBAWA DAN PENGOLAHANNYA

Rahmiati  br. Kombih
15.01.011.021
Ringkasan
Pengolahan mangan di Sumbawa
            MANGAN atau disingkat Mn adalah unsur kimia dengan nomor atom 25 dan massa atom 54,9380. Mangan ini merupakan unsur logam berwarna abu-abu kehitaman dngan titik lebur 1.245° C dan titik didih 2.097° C., Konfigurasi elektron mn dengan nomor atom 25 adalah 1s2 2s2 2p3s2 3p6 3d5 4s2.
Mangan mempunyai warna abu-abu kehitaman dengan kilap metalik sampai submetalik, kekerasan 2 – 6, berat jenis 4,8, massa jenis 7.21 g/cm3, berbentuk  massif, reuniform, botryoidal, stalaktit, serta kadang-kadang berstruktur fibrous
Sifat Kimia dan Fisika Mangan:
q  Mangan merupakan logam keras dan getas berwarna abu-abu merah muda.
q  Logam ini sulit mencair, tapi mudah teroksidasi. Mangan murni bersifat amat reaktif dan dalam bentuk bubuk akan terbakar dengan oksigen, serta larut dalam asam encer.
q  Mangan merupakan salah satu logam yang paling melimpah di tanah yang terutama berbentuk senyawa oksida dan hidroksida.
q  Mangan terjadi terutama sebagai pyrolusite (MnO2), dan pada jumlah lebih rendah sebagai rhodochrosite (MnCO3).
Bijih mangan di Indonesia ditemukan di Provinsi: Nanggroe Aceh Darussalam,Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka--Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Terdapat sekitar 13.015.340.000 m3  (Pusat SDG, 2013). Terdapat sekitar 3.015.340.000 m3 batuan pirolusit yang mengandung kadar mangan yang tinggi, yang tersebar di pulau Sumbawa (Pusat Sumber Daya Geologi, 2006). Tersebar diwilayah Sumbawa Barat dan di Sumbawa Timur.
Jenis- Jenis  Mn :
Ø  Pirolusit (MnO2)
Pirolusit adalah mineral murni mangan oksida dan merupakan salah satu sumber bijih mangan yang penting.
Ø  Manganit (Mn2O3.H2O)
Manganit mempunyai system kristal monoklin dan di alam sering dijumpai dalam bentuk batang – batang kecil memanjang, bergurat-gurat, atau sebagai gumpalan-gumpalan membulat berwarna gelap. 
Ø     Psilomelane (MnO.MnO2.2H2O)
Psilomelane mempunyai system kristal orthorombik, tetapi dialam tidak pernah dijumpai dalam bentuk kristal.
Ø     Hausmanit (Mn3O4)
Hausmanit Mempunyai sistem kristal berbentuk tetragonal dengan berat jenis 4,7 – 4,8, berwarna hitam kecoklatan.
Ø  Rhodokrosit (MnCO3)
Rodokrosit dengan system kristal benbentuk hexagonal dan biasanya  dijumpai dialam dalam bentuk rombik atau butiran-butiran berwarna merah muda atau pink.
Ø   Rhodonit (MnSiO3)
Rhodonit mempunyai sistem kristal triklin dan memiliki berat jenis 3,4 – 3,7, berwarna hitam kecoklat – coklat. Rhodonit memiliki kekerasan 5,0 – 6,0.  Kilap seperti gelap, suram seperti kaca. 
Di sumbawa sendiri, jenis mineral Mn yang banyak ditemukan  dalam bentuk oksida (Pirolusit) dan dalam bentuk sulfida (Rhodonit).  (Kurniawan, 2015).
Metode Pengolahan Mn
q  Metalurgi didefinisikan sebagai ilmu dan teknologi untuk memperoleh sampai pengolahan logam yang mencakup tahapan dari pengolahan bijih mineral.
q  Berdasarkan tahapan rangkaian kegiatannya, metalurgi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu metalurgi ekstraksi dan metalurgi fisika.
q  Metalurgi ekstraksi yang banyak melibatkan proses-proses kimia, baik yang temperatur rendah dengan cara pelindian maupun pada temperatur tinggi dengan cara proses peleburan utuk menghasilkan logam dengan kemurnian tertentu, dinamakan juga metalurgi kimia.  
q  Adapun proses-proses dari ekstraksi metalurgi / ekstraksi logam itu sendiri antara lain adalah pyrometalurgy (proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur tinggi).
q  Hydrometalurgy (proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur yang relatif rendah dengan cara pelindian dengan media cairan).
Dan electrometalurgy (proses ekstraksi yang melibatkan penerapan prinsip elektrokimia, baik pada temperatur rendah maupun pada temperatur tinggi).
Proses Hidrometalurgi
Secara garis besar, proses hidrometalurgi terdiri dari tiga tahapan yaitu:
  1. Leaching atau pengikisan logam dari batuan dengan bantuan reduktan organik.
  2. Pemekatan larutan hasil leaching dan pemurniannya.
  3. Recovery yaitu pengambilan logam dari larutan hasil leaching.
Keuntungan proses Hidrometalurgi:
  1. Bijih tidak harus dipekatkan, melainkan hanya harus dihancurkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
  2. Pemakaian batubara dan kokas pada pemanggangan bijih dan sekaligus sebagai reduktor dalam jumlah besar dapat dihilangkan.
  3. Polusi atmosfer oleh hasil samping pirometalurgi sebagai belerang dioksida, arsenik (III) oksida, dan debu tungku dapat dihindarkan.
  4. Untuk bijih-bijih peringkat rendah (low grade), metode ini lebih efektif.
  5. Suhu prosesnya relatif lebih rendah.
  6. Reagen yang digunakan relatif murah dan mudah didapatkan.
  7. Produk yang dihasilkan memilki struktur nanometer dengan kemurnian yang tinggi.
Proses Pirometalurgi :
Ø  Drying (Pengeringan) adalah proses pemindahan panas kelembapan cairan dari material.
Ø   Calcining (Kalsinasi) Kalsinasi adalah dekomposisi panas material. Proses kalsinasi membawa dalam variasi tungku/furnace termasuk shaft furnace, rotary kilns dan fluidized bed reactor.
Ø   Roasting (Pemanggangan) adalah pemanasan dengan kelebihan udara dimana udara dihembuskan pada bijih yang dipanaskan disertai penambahan regen kimia dan pemanasan ini tidak mencapai titik leleh (didih).
Ø   Smelting adalah proses peleburan logam pada temperatur tinggi sehingga logam, leleh dan mecair setelah mencapai titik didihnya.
Ø   Refining (Pemurnian) Pemunian adalah pemindahan kotoran dari material dengan proses panas.
Dampak negatif proses Pirometalurgi:
  1. Panas yang terasa oleh para pekerja yang berada di sekitar peralatan lebur.
  2. Gas buangan yang mengandung racun (CO, NO2, SO2, dll).
  3. Debu dan padatan yang beterbangan di sekitar pabrik.
  4. Terak (slag) yang bisa mengotori atau merusak lahan, walaupun dapat juga dimanfaatkan sebagai material pengisi (land fill), pengeras jalan (road aggregate) dan campuran beton ringan (light weight concrete aggregate).

Aplikasi Mn dalam Industri

 

Selasa, 17 Oktober 2017

KULIAH LUAR NEGERI SIAPA TAKUT

 Bissmilahirahmanirahim.........

       ” KULIAH LUAR NEGERI SIAPA TAKUT “

  HaiH ai b kamu yang ingin melanjukan pendidikan di luar negeri jangan takut kerena semakin jauh kita pergi meninggalkan kediaman kita  untuk menuntut ilmu maka semakin banyak juga yang kita proleh selain pengetahuan akademik tetapi kita  juga mendapat pengalam yang ular bisacontoh sederhananya sih seperti bisa jalan-jalan hehehe...
Aku punya sedikit gambaran ni tentang apa aja yang bisa kamu lakukan saat kuliah di luar negeri:
ᵜ Kuliah (university lecture)
Kuliah sudah pasti karena itu tujuan pertama buat meninggkalkan kampung halaman atau negeri tercinta dan menjadi priolitas dari segalanya. Jadi kamu bisa menjalani kuliah mu dengan mudah kamu harus memilik modal bahasa inggris dan bahasa lokal tempat kamu menempuh pendidikan .
ᵜ Penelitian   (research)
Salah satu kegiatan yang dapat kamu lakukan di luar negari yaitu penalitan akan suatu bidan dan kamu bisa mendapatkan beasiswa dari penelitian mu serta berkerja sama denga Profesor yang sesuai dengan penelitian mu.
ᵜ Terlibat dalam Aktivitas Sainstific
Saat kuliah di luar negeri kamu akan ditawar unuk mengikuti seminar baik dibidangyang kamu geluti maupun tidak. Kamu juga akan menulis jurnal penelitian yang hasilnya kamu dapati dari penelian yang telah kamu lakukan.
ᵜ Kegiatan Sosial (Sosial Aktivitas)
Saat kuliah di luar nrgeri kamu akan bayak menemukan organisasai yang bergerak dalam sosial dan itu menjdi peluang besar untuk mu agar kamu bisa membatu sesama salain berkuliah.
ᵜ Berbisnia
Dengan kuliah di luar negeri kamu memiliki peluang untuk memebuka bisnia kecil kecilan untuk menambah uang saku kamu, karena kuliah di Luar Negari kita memiliki relasi yang bayak dan kemungkina bisa menjalin bisnis setelah selesai kuliah itung itung sih buat inperstasi masa depan.
Contoh Sederhana yang bisa kamu jadikan bisnis saat kuliah di Luar Negeri kamu bisa menerima pesanan barang dari sahabat-sahabat kamu yang di dalam negeri.
Pasti diantara kita banyak yang bertanya kenapa harus kuliah din Luar Negeri..? nah aku ada jawaban yang mungkin bisa kamu pertimbangkan :
ᵜ Untuk melihat dunia yang beragam
Jadi kita bisa melihat bayak orang yang berbeda pamahaman , cara hidup,warna kulit,ras dan budaya yang berbeda dengan kita.
ᵜ Failitas yang Lengkap
Jelas dong di luar Negeri itu memiliki Fasilitas yang lengkap dari pada negeri kita sendiri. Fasilitas yang lengkap memudahkan kita dalam bayak hal baik akademik maupun kehidupan prbadi.
ᵜ Budaya Baru
Kuliah di Luar Negeri akan memperkenalkan kita dengan budaya baru yang sebelumnya kita tidak akan kepikiran utuk melakukannya  contaoh sederhananya ia lah pembagian waktu untuk kegiatan sehari –hari.
ᵜ Peluang Kerja yang lebih Luas
Dengan kita kuliah di Luar negeri kita akan lebih mmudah mendapatkan atau menciptakan pekerjaan karna kita memiliki potensi yang lebih dari yang kuliah di Dalam Negeri.

ᵜ Meningkatkan kemampuan dan Kualitas berkomunikasi
Karena di luar Negeri kita terbiasa berkomunikasi dengan oranng-orang baru secara tak langsung cara berkomunikasi kita juga akan meningkat dengan sendirinya.
ᵜBertemu dengan Teman yang akan jadi saudara
Karena kita hidup jauh dari saudara kita yang berada di kampung halam maka kuta akan mendapat saudara baru saat menuntut ilmu di Lura Negeri dan itu sudah sangat lumrah di kalangan perantau.
ᵜ Munculnya Kepercayaan Diri
Nah karna kita kuliah di Luar Negari kita akan memiliki kepercayaan lebih dri sebelumya karana kita sudah bayak mendapat pengalaman baru dan luar baiasa yang bisa kita bagikan.

PERSIAPAN BUAT KULIAH DI LUAR NEGERI
  1.Pengetahuan dasar untuk kuliah ke Luar Negeri
Mencari tahu Jalur pemberian Beasiswa
Contoh:  KGSP   NESSO
 DAAD
Jalur Penerimaan Beasiswa Seperti Apa
< Full Semester ( Maret)
< Spring Sung  (September)
2. Persiapan bahasa
Inggris
Syarat  Toefl ASIA 500 , AUSTRALIA 550 , 580 AMERIKA
Bahasa Lokal
PELUANG BEASISWA
BI
LPDP
RESEACH ASISTEN
TEACHER ASISTEN
COMPANY

Semoga gak ada keraguan lagi untuk Kuliah Di luar negaeri...